9 Fakta Baru Perang Gaza: Netanyahu ‘Guncang’ Bumi Muslim

9 Fakta Baru Perang Gaza: Netanyahu ‘Guncang’ Bumi Muslim

www.breaknews.web.id –

  • Jumlah Korban Tewas
  • Pasukan negara Israel Serbu Kamp Pengungsi
  • Puluhan Orang di dalam Tepi Barat Ditahan
  • Sistem Air Daerah Gaza Runtuh Total
  • Taktik Netanyahu Bakal Picu Konflik Selama 50 Tahun ke Depan
  • Bantuan ke Wilayah Gaza
  • negara Israel Gunakan Kelaparan Sebagai Senjata Perang
  • Menteri Sayap Kanan negara Israel Jaminan Terus Distribusikan Senjata
  • Italia ‘Semprot’ tanah Israel

Jakarta – Serangan tanah Israel ke Jalur Kawasan Gaza juga Tepi Barat (West Bank) masih terus berlangsung. Korban berjatuhan di serangan tanah Israel di dalam kamp pengungsi Jabalia dan juga Nuseirat serta rumah sakit dalam Wilayah Gaza terus menjadi sasaran.

Tanda-tanda gencatan senjata terbaru pun belum terlihat juga prospeknya makin suram.

Berikut update situasi terkait Gaza, Tepi Barat juga sekitarnya, seperti dihimpun CNBC Indonesia dari berbagai sumber pada Mulai Pekan (18/12/2023).

Jumlah Korban Tewas

Kementerian Kesejahteraan Palestina dan juga Perhimpunan Periode Sabit Merah Palestina (PRCS), seperti dikutipkan Al Jazeera, mencatat setidaknya ada 18.787 korban tewas, termasuk sekitar 7.729 anak-anak dan juga 5.153 wanita per Hari Senin (18/12/2023).

Korban luka-luka melebihi 50.897 orang, termasuk 8.663 anak-anak juga 6.327 perempuan. Setidaknya 8.000 warga juga dilaporkan hilang di area Gaza.

Sementara pada Tepi Barat, tercatat 301 orang tewas, termasuk sekitar 72 anak-anak kemudian lebih besar dari 3.365 dilaporkan luka-luka.

Sementara itu, jumlah keseluruhan korban pada negara Israel kembali direvisi. Korban tewas pada serangan gerakan Hamas 7 Oktober lalu berubah dari 1.400 menjadi 1.200 orang. Sementara luka-luka 8.730 orang. Tentara yang mana tewas 448 orang.

Setidaknya total 66 jurnalis telah dilakukan terbunuh sejak pertempuran Israel-Gaza dimulai pada 7 Oktober. Menurut Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) dan juga Federasi Jurnalis Internasional (IFJ), sebanyak 59 jurnalis Palestina, 3 jurnalis Lebanon, kemudian 4 jurnalis negara Israel sudah pernah terbunuh.

Pasukan negeri Israel Serbu Kamp Pengungsi

Sebuah serangan negeri Israel sudah pernah terjadi dalam kamp pengungsi Arroub pada Tepi Barat yang digunakan diduduki. Kabar ini terlihat menurut rekaman yang dimaksud dibagikan di tempat Telegram.

Dalam rekaman video yang dimaksud diverifikasi oleh Al Jazeera, menunjukkan tentara negara Israel berpatroli di dalam area yang dimaksud lalu menggunakan gas air mata. Belum jelas apakah penggerebekan itu masih berlangsung.

Sebelumnya, telah lama dilaporkan beberapa serangan negara Israel terjadi dalam Tepi Barat yang digunakan diduduki, yang tersebut mengakibatkan puluhan penangkapan warga Palestina.

Puluhan Orang dalam Tepi Barat Ditahan

Setidaknya 35 warga Palestina, termasuk tiga wanita, telah dilakukan ditangkap pada penggerebekan semalam lalu pagi hari di area Tepi Barat lalu Yerusalem yang digunakan diduduki. Kabar ini disampaikan oleh kelompok sayap kanan.

Komisi Urusan Tahanan lalu Mantan Tahanan lalu Komunitas Tahanan Palestina pada pernyataan dengan mengungkapkan penggerebekan terjadi di tempat berbagai wilayah termasuk Hebron, Yerusalem, Ramallah, Tulkarem, Jericho kemudian Tubas.

Jumlah total warga Palestina yang digunakan ditahan dalam Tepi Barat yang dimaksud diduduki sejak 7 Oktober sekarang mencapai 4.575 orang.

Sistem Air Daerah Gaza Runtuh Total

Anggota Doctors Without Borders, yang mana dikenal dengan inisial MSF di bahasa Perancis, menyampaikan sistem air di tempat Daerah Gaza sudah runtuh total. Menurut mereka, kurangnya air atau sanitasi akan segera menjadi “berbahaya” seperti halnya pemboman negara Israel yang sedang berlangsung dalam Gaza.

“Sistem air bukan berfungsi lagi – sudah ada benar-benar runtuh,” kata Ricardo Martinez, yang menghabiskan empat minggu pada Daerah Gaza selama perang, di sebuah wawancara yang diunggah di area situs web kelompok bantuan tersebut.

“Orang-orang didorong hingga batasnya, harus berjuang untuk kelangsungan hidup mereka. Paling banyak, warga mempunyai satu liter air per hari – itu untuk minum, mencuci juga memasak,” tambah Martinez, yang tersebut juga berperan sebagai koordinator logistik MSF.

Selain kekurangan air, ia mengungkapkan beberapa tempat di dalam Wilayah Gaza tiada mempunyai unsur bakar atau listrik, sehingga makin memperparah tantangan yang dimaksud dihadapi warga.

“Tanpa material bakar, pabrik penggilingan tiada akan berfungsi, jadi tidak ada ada yang mana punya gandum – tidak ada ada gandum, tiada ada makanan. Truk-truk yang digunakan datang dari Mesir sedang menurunkan bantuan ke truk-truk dalam Gaza, namun tanpa substansi bakar, truk-truk yang disebutkan bukan dapat bergerak kemudian mendistribusikan bantuan,” pungkasnya.

Taktik Netanyahu Bakal Picu Konflik Selama 50 Tahun ke Depan

Serangan sembarangan tanah Israel terhadap warga Palestina berisiko “memicu konflik selama 50 tahun lagi” kemudian meradikalisasi generasi muda Muslim di dalam seluruh dunia. Hal ini disampaikan oleh mantan Menteri Keamanan Inggris Ben Wallace.

“Mengejar organisasi Hamas adalah hal yang digunakan sah, namun melenyapkan sebagian besar wilayah Wilayah Gaza adalah hal yang dimaksud tiada sah. Pemakaian kekerasan yang tersebut proporsional adalah sah, namun hukuman kolektif dan juga pergerakan paksa terhadap warga sipil bukan sah,” tulisnya di tempat Daily Telegraph Inggris.

“Saat ini kita sedang memasuki periode berbahaya di tempat mana otoritas hukum asli negeri Israel untuk membela diri sedang dirusak oleh tindakan merek sendiri. Mereka menimbulkan kesalahan dengan kehilangan otoritas moral juga otoritas hukumnya.”

Dia menuduh politisi tanah Israel bertindak seperti “banteng dalam toko China” lalu mengungkapkan PM Netanyahu “kehilangan pandangan terhadap jangka panjang” setelahnya gagal mengurangi serangan organisasi Hamas pada 7 Oktober.

“Jika beliau berpikir kemarahan yang tersebut membunuh akan memperbaiki keadaan, maka beliau salah besar. Metodenya tidak ada akan menyelesaikan permasalahan ini. Faktanya, saya yakin taktiknya akan memicu konflik selama 50 tahun ke depan. Tindakannya meradikalisasi pemuda Muslim di area seluruh dunia,” tulis Wallace.

Bantuan ke Gaza

Sejauh ini jumlah agregat truk yang mana diperbolehkan masuk melalui akses penyeberangan baru Karem Abu Salem (Kerem Shalom) berjumlah 24 truk.

Truk-truk yang dimaksud dulunya diperbolehkan melintasi penyeberangan Rafah, namun pada saat ini harus melintasi pemeriksaan keamanan dalam pos pemeriksaan al-Awja, yang digunakan merupakan wilayah yang mana dikuasai Israel.

Segala sesuatu yang dimaksud lain akan diizinkan melalui penyeberangan Rafah serta akan dikelola juga dikirimkan oleh Bulan Sabit Merah Palestina.

Hal ini semata-mata menambah proses panjang serta sangat birokratis di mendapatkan pasokan bantuan, sehingga menyulitkan warga yang dimaksud sangat membutuhkan untuk mendapatkannya.

Israel Gunakan Kelaparan Sebagai Senjata Perang

Dalam sebuah laporan baru, kelompok hak asasi manusia terkemuka Human Right Watch (HRW) menuduh negeri Israel menimbulkan warga sipil kelaparan di area Kawasan Gaza “sebagai metode peperangan”, sebuah strategi yang merupakan kejahatan perang.

“Selama lebih banyak dari dua bulan, negeri Israel telah lama merampas makanan dan juga air bagi penduduk Gaza, sebuah kebijakan yang dimaksud didorong atau didukung oleh pejabat tinggi negara Israel juga mencerminkan niat untuk menyebabkan warga sipil kelaparan sebagai metode peperangan,” kata Omar Shakir, direktur di tempat Human Rights Watch di tempat negara Israel serta Palestina.

Tentara negeri Israel dengan sengaja menghalangi pengiriman air, makanan lalu substansi bakar, sementara dengan sengaja menghalangi bantuan kemanusiaan kemudian merampas benda-benda yang tersebut sangat diperlukan oleh penduduk sipil untuk kelangsungan hidup mereka. Menurut hukum internasional, perampasan hak yang dimaksud merupakan kejahatan perang, kata laporan itu.

Menurut mereka, niat kriminal tak memerlukan pengakuan penyerang tetapi juga dapat disimpulkan dari keseluruhan situasi kampanye militer.

Menteri Sayap Kanan tanah Israel Pernyataan Terus Distribusikan Senjata

Menteri Security Nasional Itamar Ben-Gvir menyatakan ia akan melanjutkan kampanye kontroversial distribusi senjata selama beliau masih berkuasa.

“Selama saya bertugas, saya akan terus membagikan senjata sebanyak-banyaknya terhadap yang digunakan berhak. Tidak ada kampanye urusan politik yang dimaksud akan menghalangi saya,” kata Ben-Gvir di dalam media sosial X.

Menteri yang disebutkan mendapat kecaman pasca surat kabar tanah Israel Haaretz melaporkan bahwa orang-orang yang digunakan dekat dengannya menerima izin untuk memberikan izin kepemilikan senjata tanpa menerima pelatihan yang tersebut memadai untuk menyaring pelamar.

Berita yang dimaksud memacu pengunduran diri Yisrael Avisar, kepala Departemen Perizinan Senjata Api pada kementerian tersebut.

Italia ‘Semprot’ Israel

Dalam sebuah kritik yang mana jarang terjadi terhadap Israel, Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani mengecam pasukan negeri Israel oleh sebab itu diduga menembak dan juga membunuh dua wanita di dalam di sebuah gereja pada Daerah Gaza selatan.

“Seorang penembak jitu (Israel) menembak dua wanita pada di sebuah gereja. Hal ini bukan ada hubungannya dengan konflik melawan gerakan Hamas akibat para teroris pasti bukan bersembunyi di area gereja-gereja Kristen,” kata Tajani.

Komentarnya muncul setelahnya Patriarkat Latin Yerusalem menyatakan bahwa manusia ibu juga putrinya ditembak dan juga dibunuh di area kompleks Paroki Keluarga Kudus pada wilayah tersebut. Dia menambahkan bahwa tujuh orang terluka, sementara serangan udara negara Israel merusak sebuah Biara tempat 54 orang penyandang disabilitas berlindung.

Insiden yang disebutkan menuai kritik keras dari Paus Fransiskus yang tersebut menyatakan tanah Israel menggunakan taktik “terorisme” di area Gaza.

Artikel Selanjutnya Kawasan Gaza Menuju Kehancuran, Kini tanah Israel Bawa Perang ke Tepi Barat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *