Belajar Dari Budi Said, Jangan Gampang Tergiur Diskon Emas

Belajar Dari Budi Said, Jangan Gampang Tergiur Diskon Emas

www.breaknews.web.id –

Jakarta – Banyaknya perkara penyalahgunaan yang digunakan berkedok penanaman modal emas menghasilkan kita harus semakin hati-hati juga tidak ada mudah percaya.

Semua orang tahu, penanaman modal emas adalah penanaman modal yang terbilang cukup mudah juga mudah untuk dimulai kapan saja.Tapi jangan salah, Anda tetap saja harus waspada serupa aksi penggelapan yang mengatasnamakan pembangunan ekonomi ini.

Belakangan, tindakan hukum pembohongan yang tersebut menyedot perhatian masyarakat adalah perdagangan emas PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam untuk salah satu crazy rich selama Surabaya, Budi Said.

Kasus bermula ketika sekitar bulan April sampai dengan Desember 2018. Ketika itu, Budi Said berhubungan dengan Eksi Anggraeni, Endang Kumoro, Misdianto, dan juga Ahmad Purwanto pada rangka jual-beli emas Antam.

Menurut Budi Said dirinya mendapatkan tawaran dari Eksi Anggraeni untuk membeli emas Antam dengan nilai diskon serta penyerahan dilaksanakan 12 hari kerja. Faktanya, di area Antam tiada pernah ada nilai tukar diskon, dan juga biaya jual emas Antam setiap hari di area publish secara terbuka di dalam website resmi mereka, www.logammulia.com serta penyerahan diadakan pada hari yang mana mirip (cash and carry).

Berdasarkan “klaim” adanya tarif diskon tersebut, menurut Budi Said pihak Eksi Anggraeni, Endang Kumoro, Misdianto, serta Ahmad Purwanto masih kekurangan penyerahan emas untuk Budi Said sebanyak 1.136 kg emas.

Budi Said kemudian melaporkan Eksi Anggraeni, Endang Kumoro, Misdianto, kemudian Ahmad Purwanto berhadapan dengan dugaan tindakan pidana pembohongan terhadap dirinya lalu diputus pada Putusan Pidana No. 2576/Pid.B/2019/PN.Sby tertanggal 5 Desember 2019 kemudian Putusan Pidana No. 2658/Pid.B/2019/PN.Sby tertanggal 10 Desember 2019.

Dalam putusan pidana yang dimaksud kita belajar apabila penawaran pembelian emas dengan nilai tukar diskon itu tiada pernah ada. Karena sifat emas sendiri merupakan barang likuid yang dimaksud mudah dijual kapan pun, juga harganya memiliki standar acuan resmi yang tersebut transparan.

“Jadi apabila emas dijual di dalam bawah biaya pangsa pastinya akan merugikan pemiliknya, pada persoalan hukum ini Antam, jikalau itu terjadi maka akan terjadi kerugian negara juga melanggar aturan. Sebagai perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang sudah ada mencatatkan sahamnya dalam bursa modal Indonesia, Antam sangat menjunjung tinggi asas transparansi serta manajemen risiko yang baik,” ungkap Ayyi Achmad Hidayah, Financial Expert CNBC Indonesia.

Belakangan kemudian Antam menemukan fakta-fakta bahwa terdapat perbuatan Eksi Anggraeni Memberikan barang-barang terdiri dari mobil, emas, uang tunai (Rupiah lalu SGD) untuk Endang Kumoro, Misdianto, juga Ahmad Purwanto dengan mempergunakan uang yang tersebut diberikan dari Budi Said (sebagaimana di Putusan Pidana No. 2658/Pid.B/2019/PN.Sby), lalu telah lama menjadi tindakan hukum Tipikor yang dimaksud ketika ini sedang disidangkan kemudian berpotensi menyebabkan kerugian negara.

Tak hanya saja tindakan hukum Budi Said, modus-modus penyalahgunaan pembangunan ekonomi emas juga marak terjadi dalam Indonesia. Pada Maret 2022, seseorang bernama Budi Hermanto diadili di area Pengadilan Negeri Tangerang menghadapi persoalan hukum penggelapan emas berskema ponzi, dengan kerugian Rupiah 1 triliun.

Dirangkum dari berbagai sumber, ada beberapa tindakan hukum penggelapan pembangunan ekonomi emas yang tersebar luas serta menghentak khalayak ramai. Beberapa diantaranya seperti:

1. Kasus CV Kebun Emas

Tepat pada Juli 2017, dua orang pelaku penipuan pembangunan ekonomi emas berhasil dibekuk Kepolisian Surakarta. Kedua pelaku menawarkan penanaman modal emas batangan ke calon penanam modal dengan keuntungan lima persen per bulan.

Mereka beraksi lewat seminar serta mengatasnamakan CV Kebun Emas Indonesia. Penanam Modal diminta menyetorkan dana, lalu dana yang dimaksud digunakan untuk memberikan bunga ke pemodal lama.

Menurut laporan, para pelaku berhasil meraup dana sebesar Mata Uang Rupiah 2 miliar. Total penanam modal yang digunakan menjadi korban melawan penggelapan ini mencapai 61 orang.

2. Kasus GTI Syariah

PT Golden Traders Indonesia Syariah (GTIS) awalnya memperdagangkan emas, namun akhirnya dia mengumumkan bahwa merekan sudah ada berubah jadi perusahaan pembangunan ekonomi syariah pada 2011. Hebatnya, mereka berhasil dapat label halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

PT GTI Syariah menjanjikan para klien mendapat bunga tetap memperlihatkan 4,5% tiap bulan ketika kontrak emas dicarikan kembali oleh perusahaan tersebut.

Kabarnya total dana pelanggan yang mana berhasil merek gelapkan mencapai Mata Uang Rupiah 10 triliun. Dan setelahnya dijalankan penelusuran, perusahaan ini ternyata didirikan oleh warga Malaya bernama Ong Han Cun.

Dalam iklan GTIS yang muncul tahun 2012, merek mengatakan, “Udah gak zaman pembangunan ekonomi emas belaka mengandalkan fluktuasi harga. Pertahankan nilai uang Anda. Nikmati kepastian keuntungan setiap bulan cashback 2 % dengan pembelian emas batangan dalam PT GTI.”

Aturan main penanaman modal GTIS adalah pemodal diminta membayar dulu sebelum emasnya dikirim seminggu kemudian. Dan pada waktu ingin jual emas ke GTIS, uang hasil transaksi jual beli emasnya pun dicairkan pada jangka waktu satu minggu.

3. Virgin Gold Pertambangan Corporation

Kalau ini adalah pembangunan ekonomi berkedok tambang emas, bukanlah emas batangan atau digital.

Virgin Gold Ekstraksi Corporation alias VGMC adalah perusahaan yang digunakan berbasis dalam London, Inggris. menurut laporan Detik.com pada 2017, dia menawarkan sebuah penanaman modal saham tambang emas yang digunakan keuntungannya mencapai 10-20 persen tiap bulan.

Di tahun 2013, sempat tersiar kabar seseorang pemodal mengaku telah terjadi berinvestasi dalam perusahaan itu sejak tahun 2010. Di tahun pertama, investasinya masih lancar, tapi pada 2012 mulai muncul kesulitan dan juga kabarnya beliau telah kehilangan Simbol Rupiah 2,5 miliar.

Korban mengaku membeli 170 lembar saham yang dimaksud biaya perlembarnya Rupiah 15 juta. Agen yang tersebut menawarkan investasinya juga menghilang. Belum lagi korban pun tidak ada pernah tahu dalam mana alamat kantor VGMC, dikarenakan dirinya terus-menerus bertemu dengan sang agen pada hotel berbintang.

Jika diperhatikan lebih lanjut lanjut, keuntungan yang digunakan ditawarkan perusahaan-perusahaan pengurus pembangunan ekonomi bodong itu besarannya luar biasa.

Patut diketahui bahwa emas merupakan aset penanaman modal riil (nyata), yang dimaksud tidak ada memiliki underlying. Emas juga tidak instrumen berbasis utang seperti obligasi, sukuk, P2P lending atau simpanan layaknya deposito yang tersebut mampu memberikan imbal hasil tetap memperlihatkan untuk pemiliknya.

“Ketika ada entitas yang digunakan berani menawarkan imbal hasil tinggi ataupun harga jual diskon untuk pembangunan ekonomi emas, maka hal itu patut dicurigai,” jelas Ayyi.

Belajar dari persoalan hukum Budi Said lalu lainnya, ada baiknya bagi Anda buat menyambangi kantor perusahaan pembangunan ekonomi yang digunakan bersangkutan untuk meyakinkan kalau perusahaan itu memang sebenarnya ada. Bila perusahaan itu bergerak di tempat bidang emas digital, maka lakukan pengecekan izin perusahaan itu ke situs Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).

Artikel Selanjutnya Kalah Gugatan 1,1 Ton Emas, Antam Akan Bayar Pakai Hal ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *