Tekno  

Erupsi Gunung Anak Krakatau, Volkanolog ITB Teringat Tsunami Selat Sunda 2018

Erupsi Gunung Anak Krakatau, Volkanolog ITB Teringat Tsunami Selat Sunda 2018

www.breaknews.web.id – Bandung – Letusan atau erupsi Gunung Anak Krakatau belakangan ini mengingatkan pada insiden tsunami pada pengujung 2018 dalam Selat Sunda yang tersebut merenggut korban jiwa. Menurut volkanolog dari Institut Teknologi Bandung Mirzam Abdurrachman, letusan Gunung api Anak Krakatau sekarang cukup besar.

”Lavanya mulai keluar, kolom erupsinya sampai ketinggian antara 1.000-2.000 meter,” kata Mirzam, Rabu, 29 November 2023.

Mirzam menyatakan aktivitas erupsi Anak Krakatau tergolong sebagai hal biasa juga normal. “Tapi mengingat kejadian 2018, longsor menyebabkan tsunami setelahnya kawahnya terbuka terjadi erupsi,” kata dia.

Longsor yang terjadi, menurut dosen Inisiatif Studi Teknik Geologi ITB itu, lantaran kondisi tubuh Gunung api Anak Krakatau tak stabil akibat volumenya sudah ada sangat besar. Temuan itu diperoleh dari hasil penelitian yang mana melibatkan regu dari ITB, University of Oxford, University of Birmingham lalu British Geological Survey. 

Tsunami vulkanik pada 22 Desember 2018 itu dinilai sulit diprediksi. Saat itu, ketinggian Gunung api Anak Krakatau, yaitu 333 meter dari permukaan laut atau mdpl. Kini tinggi gunung api dari bawah laut Selat Sunda itu menurut Mirzam sekitar 159-183 mdpl.

Dengan ketinggian sekitar 57 persen dari sebelumnya, peningkatan gunungnya termasuk cepat pada kurun waktu lima tahun. “Volumenya bukan sebesar 2018, tapi kemungkinan bahayanya masih ada,” kata Mirzam. 

Pusat Vulkanologi Mitigasi serta Bencana Geologi atau PVMBG sudah pernah meninggal status Gunung Anak Krakatau ke tingkat III. Pengamatannya sekarang menurut Mirzam dijalankan secara komprehensif.

“Tidak hanya sekali pergerakan magma tapi juga retakan-retakan yang mana kemungkinan besar menyebabkan ketidak stabilan lereng perlu diperhatikan supaya kejadian 2018 tidak ada berulang,” kata Mirzam.

Tsunami pada 2018 akibat longsoran itu mengakibatkan ombak setinggi 80 meter di area sekitar Gunung api Anak Krakatau. Pada pesisir Banten juga Lampung, ketinggian ombak mencapai 13 meter. Kejadian itu merenggut nyawa 437 korban jiwa, 14.059 orang korban luka kemudian 33.719 orang kehilangan tempat tinggal.

Mirzam mengungkapkan beberapa faktor yang dimaksud berpotensi mengakibatkan longsoran itu adalah gempa bumi, pun desakan magma bisa saja menghasilkan tubuh gunung bukan stabil. “Kondisi ini tetap saja harus waspada. Mungkin letusan tak terjadi, tapi sebab desakan atau goyangan sebab tubuhnya miring peluang longsor ada,” ujarnya.

Diketahui pula Gunung api Anak Krakatau bertambah dalam melawan bidang tumpuan yang mana tidaklah horisontal sehingga bidang longsorannya miring dari timur laut ke barat daya. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *