Harga Minyak Turun Empat Pekan Beruntun

Harga Minyak Turun Empat Pekan Beruntun

www.breaknews.web.id – JAKARTA. Lonjakan biaya minyak yang terjadi dalam perdagangan hari terakhir pekan ini tak mampu menandingi penurunan yang digunakan terjadi sepekan. hari terakhir pekan (17/11), nilai minyak mentah berjangka Brent naik US$ 3,19 atau sekitar 4,1%, menjadi US$ 80,61 per barel. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik US$ 2,99, atau 4,1% ke US$ 75,89 per barel pada perdagangan kemarin.

Dalam sepekan, tarif minyak WTI turun 1,66% dari tempat US$ 77,17 per barel. Sedangkan tarif minyak Brent turun 1,01% sepekan.

Ini adalah penurunan mingguan keempat berturut-turut. Harga minyak melemah empat pekan sebagian besar terbebani oleh kenaikan persediaan minyak mentah Negeri Paman Sam juga rekor produksi tertinggi yang mana berkelanjutan.

Krisis properti yang mana semakin parah pada Tiongkok kemudian melambatnya pertumbuhan lapangan usaha juga membebani harga jual minyak.

“Pertumbuhan permintaan dari China sangat jauh dari ekspektasi,” kata Andrew Lipow, presiden Lipow Oil Associates untuk Reuters.

Jumlah rig minyak meningkat paling besar sejak bulan Februari, kata perusahaan jasa energi Baker Hughes. “Ketika nilai tukar turun tajam, produsen berpikir dua kali untuk melanjutkan belanja modal kemudian proyek,” kata Phil Flynn, analis Price Futures Group.

Beberapa analis mengungkapkan aksi jual besar-besaran pada hari Kamis kemungkinan besar berlebihan, teristimewa mengingat meningkatnya ketegangan di area Timur Tengah yang tersebut dapat mengganggu pasokan minyak. Amerika Serikat (AS) berjanji untuk menerapkan sanksi terhadap Iran, pendukung Hamas.

Jika tarif minyak Brent di tempat bawah US$ 80, berbagai analis memperkirakan OPEC+, teristimewa Arab Saudi lalu Rusia, akan menunda pengurangan produksi hingga tahun 2024.

Tiga sumber Reuters menyebut, OPEC+ akan mempertimbangkan apakah akan melakukan pengurangan pasokan minyak tambahan ketika kelompok yang dimaksud bertemu akhir bulan ini.

“Harga minyak sedikit turun tahun ini meskipun permintaan melebihi ekspektasi optimis kami,” kata analis Goldman Sachs di sebuah catatan. Goldman menyebut, pasokan non-inti OPEC sangat lebih tinggi kuat dari perkiraan, sebagian diimbangi oleh pengurangan produksi OPEC.

Pada tahun 2023, Amerika Serikat (AS) yang digunakan menyumbang dua pertiga perkembangan produksi non-OPEC+, diperkirakan akan menambah produksi 1,4 jt barel per hari (bph), menurut Badan Tenaga Internasional (IEA).

Sementara itu, kenaikan harga di dalam Zona Euro tampaknya mulai mencair. Pada hari Jumat, kantor statistik UE mengonfirmasi kenaikan harga tahunan melambat tajam.




Jangan Lupa Follow dan Ikuti Update Berita Di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *